Apakah Pihak Manajemen Merupakan Musuh Para Buruh?

Kenapa pihak manajemen perusahaan sering menghalang-halangi Serikat Pekerja untuk menuntut UMP? Padahal, bukankah mereka juga pekerja yang harusnya menjadi penyampai aspirasi kami?, tanya seorang pekerja produksi sepatu di Tangerang. Apa jawabannya?

Tangerang, Banten – Pertanyaan menarik datang dari salah satu peserta Diskusi Kampanye Upah Minimum ketika ditanya mengenai isu yang mereka hadapi di tempat kerja. “Kenapa pihak manajemen perusahaan (lebih spesifiknya dalam departemen HRD) meskipun sudah mengetahui mengenai peraturan yang ada di Undang-Undang, tetap saja menghalang-halangi Serikat Pekerja/Serikat Buruh untuk menuntut gaji yang sesuai Upah Minimum? Padahal, bukankah mereka juga sama-sama pekerja yang harusnya menjadi penyampai aspirasi kami para pekerja ke pihak manajemen yang lebih tinggi?” ucap seorang buruh yang bekerja di Perusahaan produksi sepatu ekspor.

Lalu apa jawaban dari Tim Kampanye Upah Minimum? Perlu diketahui oleh para buruh bahwa menurut survey ILO tahun 1991, persentase pembagian keuntungan usaha adalah : 70% untuk bahan baku produksi, 15% untuk manajemen dan 15% untuk buruh. Namun ternyata sekarang sudah berubah, menurut survey ILO tahun 2011, persentase pembagian keuntungan usaha adalah : 55% untuk bahan baku produksi, 38% untuk manajemen dan hanya sebesar 7% diperuntukan kepada buruh.

Dengan alasan itulah, kenapa sering kali manajemen perusahaan menutup-nutupi aspirasi kepentingan buruh, karena mereka mendapat keuntungan perusahaan yang jauh lebih besar daripada buruh. Informasi yang dimiliki oleh manajemen lebih banyak dibandingkan dengan informasi yang dipunyai oleh buruh, ini salah satunya. Informasi yang tidak seimbang itu sangat mungkin menimbulkan persepsi negatif terhadap manajemen perusahaan. Persepsi negatif itulah yang akhirnya berujung pada mogok kerja atau pemaksaan buruh untuk menaikkan gaji, keadilan jam kerja, dan sebagainya.

Meskipun tidak di semua perusahaan, hal itu berlaku, tapi masih ada saja perusahaan-perusahaan yang manajemennya kurang bijaksana seperti di perusahaan produksi sepatu di Tangerang tersebut.

Bagaimana solusi yang baik dilakukan? Manajemen harus mengelola perusahaan secara transparan, adil, dan komunikatif sehingga buruh tidak mempunyai persepsi negatif terhadap perusahaan. Jika manajer membuka komunikasi secara bijaksana, semua masalah akan terselesaikan. Buruh harus siap dan mempunyai komitmen tinggi untuk menjadikan perusahaan sebagai tempat untuk berkarya dan berprestasi. Oleh karena itu, perlu persamaan persepsi antara buruh dan perusahaan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

Berapa gaji Kamu ? Silakan isi di Survei Gaji