05/13 Tanggung Jawab Keluarga Garmen

Cuti Ayah Bagi Pekerja Garmen

Apakah UU Ketenagakerjaan mengatur mengenai cuti ayah?

UU Ketenagakerjaan dalam pasal 93 menyatakan bahwa pekerja laki-laki mendapat cuti ayah berbayar selama 2 hari saat istrinya melahirkan

Apakah pekerja laki-laki yang merupakan orang tua tunggal dapat mengambil cuti khusus untuk mengurus anak?

Seperti yang disebutkan di pertanyaan sebelumnya, UU Ketenagakerjaan di Indonesia belum mengatur secara khusus mengenai hak cuti ayah. Selain cuti 2 hari yang diberikan bagi pekerja laki-laki saat istrinya melahirkan, pekerja laki-laki dapat menggunakan hak cuti tahunannya untuk keperluan mengurus anak.

Adapun begitu, perusahaan dapat mengatur cuti ayah secara berlainan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama, sepanjang tidak menyalahi UU Ketenagakerjaan dan merugikan hak pekerja

Cuti Orang Tua di Sektor Garmen

Apakah pekerja garmen mendapat cuti berbayar untuk keperluan anak?

Dalam pasal 93 UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja dapat mengambil cuti berbayar untuk keperluan penting, salah satu diantaranya adalah untuk keperluan anak seperti :

  • Menikahkan anaknya, berhak atas cuti berbayar selama 2 (dua) hari
  • Mengkhitankan anaknya, berhak atas cuti berbayar selama 2 (dua) hari
  • Membaptiskan anaknya, berhak atas cuti berbayar selama 2 (dua) hari
  • Istri melahirkan/mengalami keguguran kandungan, berhak atas cuti berbayar selama 2 (dua) hari
  • Suami/istri, orang tua/mertua, anak atau menantu meninggal dunia, berhak atas cuti berbayar selama 2 (dua) hari

Apakah ada regulasi yang mengatur hak cuti untuk pekerja yang mengadopsi bayi yang baru saja lahir?

Memang ada dorongan di tingkat international agar negara anggota Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengatur cuti adopsi lewat rekomendasi ILO 191 tahun 2000 mengenai Perlindungan terhadap Ibu Hamil. Sayangnya, Indonesia belum memiliki peraturan yang mengatur mengenai cuti untuk mengadopsi anak.

Maka dari itu, pekerja yang ingin mengadopsi anak, bisa menggunakan cuti tahunannya.

Apakah pekerja garmen berhak atas cuti untuk mengurus anak yang sedang sakit?

Pekerja berhak atas cuti dan tetap dibayar secara penuh untuk keperluan anak seperti anak dari pekerja tersebut menjalani khitanan, baptisan, menikah, atau meninggal dunia. Akan tetapi UU Ketenagakerjaan tidak mengatur mengenai cuti karena anak sakit. Apabila anak pekerja sakit maka pekerja dapat menggunakan hak cuti tahunannya untuk keperluan tersebut.

Adapun begitu, kami menemukan bahwa ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di beberapa perusahaan yang mengatur mengenai hak cuti karena anak sakit. Pekerja dapat memeriksa kembali isi dari perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama apakah di dalamnya mengatur mengenai cuti karena anak sakit.