07/13 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Garmen

Perlindungan pekerja dari kecelakaan kerja

Apa yang dimaksud dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)?

Menurut pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Apa yang dimaksud dengan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3)?

Sistem Manajemen K3 (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Apakah perusahaan garmen wajib memberlakukan SMK3?

Kewajiban penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di perusahaan diatur dalam :

  • UU Ketenagakerjaan Pasal 87 ““setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”
  • PP No. 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3 Pasal 5. “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 di perusahaannya”

Apa manfaat diberlakukannya SMK3 di perusahaan garmen?

1. Sebagai perlindungan karyawan

Tujuan utama penerapan SMK3 adalah untuk melindungi pekerja dari segala bentuk kecelakaan dan penyakit akibat kerja

2. Memperlihatkan kepatuhan pada peraturan dan Undang-Undang

Perusahaan-perusahaan yang mematuhi peraturan atau perundang-undangan yang berlaku pada umumnya terlihat lebih tertib dan hal ini dapat meningkatkan citra baik perusahaan itu sendiri.

3. Membuat sistem manajemen yang efektif

Dengan menerapkan SMK3 maka sistem manajemen keselamatan akan tertata dengan baik dan efektif, karena didalam SMK3 disyaratkan adanya prosedur yang terdokumentasi, sehingga segala aktifitas dan kegiatan yang dilakukan akan lebih terorganisir, terarah, berada dalam koridor yang teratur dan dilakukan secara konsisten.

4. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan

Penerapan K3 secara baik akan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan, karena penerapan K3 akan dapat menjamin proses yang aman, tertib dan bersih sehingga bisa meningkatkan kualitas dan mengurangi produk cacat. Tidak jarang buyer (pembeli) melakukan audit K3 kepada para pemasok mereka untuk memastikan bahwa pekerja terlindungi dengan baik dan proses produksi dilakukan secara aman.

Adakah hubungan antara sistem manajemen K3 dengan produktivitas pekerja garmen?

Ada. Kecelakaan mempengaruhi produktivitas perusahaan. Dalam proses produksi, produktivitas ditopang oleh tiga pilar utama yaitu Kuantitas (Quantity), Kualitas (Quality), dan Keselamatan (Safety). Produktivitas hanya dapat dicapai jika ketiga unsur produktivitas diatas berjalan secara seimbang. Dari paparan elemen mutu di atas, terlihat bahwa tanpa upaya Sistem Manajemen K3 yang baik maka proses pencapaian mutu tidak akan tercapai. Keselamatan dan kesehatan kerja berperan menjamin keamanan proses produksi sehingga produktivitas bisa tercapai.

Apa saja kewajiban pengusaha terhadap pelaksanaan K3 di tempat kerja?

Tanggung jawab akhir di tempat kerja agar selamat dan sehat terletak pada manajemen dan pemilik perusahaan. Untuk itu beberapa hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Kebijakan K3 : Pastikan semua tingkat manajemen dan seluruh pekerja tahu isi dan mengikuti kebijakan K3, tanpa kecuali.

2. Penyediaan Sumber Daya : Menyediakan fasilitas yang memadai dan sumber daya sehingga kebijakan kesehatan dan keselamatan dapat diimplementasikan dengan baik -termasuk anggaran, personil, pelatihan, kesempatan meningkatkan kualitas dan wadah untuk berpartisipasi dalam perencanaan, evaluasi pelaksanaan, dan tindakan menuju perbaikan.

3. Kebijakan pelatihan K3: Pelatihan K3 harus dimulai dengan orientasi karyawan, ketika seorang karyawan baru atau ditransfer ke pekerjaan baru. Sesi orientasi yang berkaitan dengan K3 biasanya harus mencakup:

  • Prosedur darurat;
  • Lokasi pertolongan pertama;
  • Tanggung jawab K3;
  • Pelaporan cedera, kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman;
  • Penggunaan peralatan pelindung diri (APD);
  • Hak untuk menolak pekerjaan yang berbahaya;
  • Bahaya, termasuk di luar area kerja mereka sendiri;
  • Alasan untuk setiap aturan K3.

Apa kewajiban pekerja terhadap pelaksanaan K3 di tempat kerja?

Pekerja bertanggung jawab untuk melindungi keselamatan dan kesehatan mereka sendiri di tempat kerja sehingga mereka perlu mengambil bagian dalam memastikan berfungsinya kebijakan K3. Untuk melakukan ini, mereka perlu menyadari dan memahami berbagai bahaya kesehatan dan keselamatan, standar dan praktekpraktek yang relevan dengan pekerjaan mereka. Tanggung jawab pekerja meliputi:

  • Menghormati semua peraturan kesehatan dan keselamatan;
  • Mengidentifikasi potensi resiko / bahaya pada workstation mereka;
  • Berpartisipasi dalam Komite K3 bersama ;
  • Menciptakan kesadaran di antara rekan sekerja, termasuk yang baru, tentang budaya K3 yang dipromosikan dan diharapkan di tempat kerja mereka.

Apakah perusahaan garmen wajib mempunyai Panitia Pembina K3 (P2K3) atau Ahli K3?

P2K3 (Panitia Pembina K3) adalah jantung dari sukses sistem manajemen K3. P2K3 merupakan wadah kerjasama antara unsur pimpinan perusahaan dan tenaga kerja dalam menangani masalah K3 di perusahaan. Tugas Pokok P2K3 adalah memberikan saran dan pertimbangan di bidang K3 kepada pengusaha/pengurus tempat kerja (diminta maupun tidak).

Keanggotaan P2K3 terdiri dari unsur pengusaha dan pekerja yang susunannya terdiri dari ketua sekretaris dan anggota. Sebagai sekretaris P2K3 adalah Ahli K3 yaitu tenaga teknis berkeahlian khusus yang membantu pimpinan perusahaan atau pengurus untuk menyelenggarakan dan meningkatkan usaha keselamatan kerja, higiene perusahaan dan kesehatan kerja, membantu pengawasan dibidang K3.

Ahli K3 ditunjuk bagi tempat kerja dengan kriteria tertentu dan pada perusahaan yang memberikan jasa di bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Jika tidak masuk kriteria tersebut, maka perusahaan tidak wajib mempunyai Ahli K3. Artinya, tidak semua perusahaan diwajibkan memiliki Ahli K3.

Pencegahan Kecelakaan Kerja

Apa yang dimaksud dengan kecelakaan kerja?

Menurut UU Keselamatan Kerja, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia maupun harta benda

Apa yang menjadi penyebab kecelakaan kerja?

Pada umumnya kecelakaan kerja diakibatkan karena 5 faktor, yaitu :

  • Faktor manusia: Tindakan-tindakan yang diambil atau tidak diambil, untuk mengontrol cara kerja yang dilakukan, minimnya pengetahuan pekerja dalam menguasai bidang kerja, karakter serta sifat pekerja
  • Faktor material: Risiko ledakan, kebakaran dan trauma paparan tak terduga untuk zat yang sangat beracun, seperti asam
  • Faktor Peralatan: Peralatan, jika tidak terjaga dengan baik, rentan terhadap kegagalan yang dapat menyebabkan kecelakaan.
  • Faktor lingkungan: lingkungan mengacu pada keadaan tempat kerja. Suhu, kelembaban, kebisingan, udara dan kualitas pencahayaan merupakan contoh faktor lingkungan.
  • Faktor proses: Ini termasuk risiko yang timbul dari proses produksi dan produk samping seperti panas, kebisingan, debu, uap dan asap.

Apa saja kerugian dari kecelakaan kerja?

Kerugian akibat kecelakaan dapat dikategorikan atas kerugian langsung dan kerugian tak langsung. Kerugian langsung misalnya cidera pada tenaga kerja dan kerusakan pada sarana produksi.

Kerugian tidak langsung adalah kerugian yang tidak terlihat sehingga sering disebut juga sebagai kerugian tersembunyi, misalnya kerugian terhentinya proses produksi, penurunan produksi, klaim atau ganti rugi, dampak sosial, citra dan kepercayaan konsumen.

Apa saja potensi bahaya kecelakaan kerja yang dapat terjadi di sektor garmen?

Hal-hal yang menjadi permasalahan yang berkaitan dengan potensi bahaya kecelakaan kerja pada industri garmen antara lain seperti berikut ini:

a. Bahaya kebakaran

b. Jari tangan terpotong

c. Jari terkena jarum

d. Jari tergencet mesin kancing

e. Tersengat arus listrik pendek

f. Tergores dan bahaya terjatuh atau kejatuhan

Bagaimana cara upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecelakaan kerja?

Upaya pencegahan kecelakaan kerja melalui pengendalian bahaya di tempat kerja :

  • Pemantauan dan pengendalian kondisi tidak aman di tempat kerja.
  • Pemantauan dan pengendalian tindakan tidak aman di tempat kerja.

Upaya pencegahan kecelakaan kerja melalui pembinaan dan pengawasan :

  • Pelatihan dan pendidikan K3 terhadap tenaga kerja.
  • Konseling dan konsultasi mengenai penerapan K3 bersama tenaga kerja.
  • Pengembangan sumber daya ataupun teknologi yang berkaitan dengan peningkatan penerapan K3 di tempat kerja.

Upaya pencegahan kecelakaan kerja melalui sistem manajemen :

  • Prosedur dan aturan K3 di tempat kerja.
  • Penyediaan sarana dan prasarana K3 dan pendukungnya di tempat kerja.
  • Penghargaan dan sanksi terhadap penerapan K3 di tempat kerja kepada tenaga kerja.