Edi (50 tahun), Supir bus

Mengemudi adalah satu-satunya keahlian yang membuat Pak Edi bertahan bekerja sebagai supir bus selama 16 tahun. “Saya cuma lulusan SD neng, ga bisa apa-apa cuma bisa nyetir” kata Pak Edi dengan nada pasrah.

Pak Edi adalah supir bus Damri jurusan Blok M – Bandara Soekarno Hatta. Gaji pokok yang diterima Pak Edi adalah Rp. 200.000 setiap bulannya, mengenaskan bukan? Uang 200ribu cukup kemana?. Untuk itu, Pak Edi mengejar tambahan gaji dengan tarif rit. Untuk orang awam, kita masih kurang familiar dengan kata rit, Apa itu rit? Perjalanan dari Blok M menuju Soekarno Hatta dihitung 1 rit, Blok M menuju Soekarno Hatta dan balik lagi ke Blok M dihitung 2 rit,dst. Untuk satu rit, Pak Edi mendapat tambahan uang sebesar Rp. 10.000. Bila dalam sehari Pak Edi bisa melakukan 12 rit, Pak Edi bisa mengantongi uang Rp.120.000 tiap harinya. “Tapi itu kalau kondisi badan saya lagi fit neng,,,bisa narik sampe 12 rit, kalau saya lagi cape ya paling cuma 6 rit” lanjut Pak Edi. Meskipun pool bus Damri jauh dari tempat tinggalnya, perusahaan tidak memberi uang transportasi dan makan.

Tentu saja pendapatan Pak Edi tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, status tempat tinggal yang masih mengontrak ditambah lagi anak Pak Edi sudah memasuki masa kuliah, pengeluaran menjadi lebih besar. Satu – satunya cara untuk menambah pendapatan ya dengan memperbanyak rit. Atau bila dalam sehari bisa mencapai 150 penumpang, Pak Edi akan mendapat 7% dari pendapatan bus yakni sekitar Rp. 210.000. Tapi kata Pak Edi, jarang sekali itu terjadi, tidak banyak penumpang Damri, jadi Pak Edi tidak mengharapkan uang tambahan dari situ.

Jam kerja Pak Edi tidak tentu dan tidak ada batasan bahkan bisa sampai 18 jam setiap harinya, bila ingin mendapatkan pendapatan yang lebih ya jam kerja harus lebih banyak. Pak Edi mendapat waktu 10 hari bekerja dan 10 hari libur, saat libur Pak Edi membantu istri berjualan untuk mengisi waktu senggangnya. Perusahaan Pak Edi tidak mengenal lembur ataupun cuti karena Pak Edi pun mendapat 10 hari libur. Bagusnya Pak Edi mendapat asuransi kesehatan dari perusahaan.

Pak Edi berpesan kepada Gajimu dan WageIndicator Belanda agar tidak bosan-bosan untuk mengedukasi pekerja Indonesia. Adapun saran yang diberikan adalah agar Gajimu bisa memberikan training atau seminar kepada pekerja kasar/ low class workers seperti Pak Edi. Karena masih banyak supir-supir yang tidak tahu cara menggunakan computer apalagi internet.